Skip to main content

Posts

Showing posts with the label naskah monolog

Naskah MONOLOG KUNCI KONTAK Karya Yusef Muldiyana

MONOLOG KUNCI KONTAK Karya Yusef Muldiyana LANGIT   KELABU YANG BERMURAM TERLUKIS BAGAIKAN MULUT SINGA YANG MENGANGA DENGAN TARING PANJANG DAN GIGI GIGI RUNCING. ARAK-ARAKAN AWAN HITAM TERGAMBAR DENGAN KARUNG-KARUNG BESAR YANG BERGELANTUNGAN DI LANGIT; BERGOTANG-GOYANG DISENTUH ANGIN. DIANTARA KARUNG-KARUNG ITU ADA SEBUAH PLASTIK BESAR BERISI AIR, BOCOR DI SUATU TEMPAT SEHINGGA AIR TERUS MENETES DI PANGGUNG YANG SEDANG MENJELMA MENJADI SEBUAH SELOKAN DI PINGGIR SEBUAH TROTOAR. DI DEPAN TROTOAR TERLIHAT JALAN ASPAL PENUH LUBANG DAN TERDAPAT PINTU-PINTU SALURAN AIR. KARUNG-KARUNG MENARI DIIRINGI RITMIS SUARA MUSIK. SEBUAH DUS BESAR BEKAS KULKAS MUNCUL DAN BERGERAK-GERAK SENDIRI. TERDENGAR SUARA DARIYATI MENYANYI-NYANYI DI DALAMNYA. Merah semakin merah, putih semakin putih, hitam semakin   hitam, kelabu semakin kelabu . DARIYATI TERUS MENGULANG KALIMAT ITU DALAM NYANYIAN DAN SENANDUNG. ...

Naskah Monolog K E P A L A Putu Wijaya

Monolog K E P A L A Putu Wijaya                       Ketika pesawat Singapore Air Lines dari Malaysia mendarat di bandara Singapura, aku terkejut. Astaga, kepalaku ketinggalan. Mungkin di kamar kecil. Aku jadi panik. Aku amat-amati diriku. Seluruh jasmaniku sehat. Pakaianku beres, aku pantas duduk di kelas eksekutif seperti yang ditentukan panitia yang mengundanghku. Dan para penumpang lain kelihatan tenang. Kepala mereka semuanya masih bertengger dengan baik di atas lehernya. Bagaimana mungkin aku akan belanja kalau kepalaku ketinggalan. Maksudku bukan topi, tapi kepalaku yang beneran ketinggalan. Aku yakin. Makanya aku bilang kepala. Bukan kepala boneka. Batok kepalaku sendiri! Itu bukan kata-kata sandi. Untuk apa kata-kata kiasan? Sekarang jaman blak-blakan. Kepalaku yang ketinggala...

Monolog KEMERDEKAAN Karya Putu Wijaya

Monolog KEMERDEKAAN Karya Putu Wijaya Seorang juragan perkutut yang sudah sangat tua, ingin memberi hadiah kepada burungnya. Ia mendekati sangkar peliharaannya itu, lalu berkata: “Burung perkututku yang setia. Setiap hari kau sudah memperdengarkan suaramu yang merdu, sehingga hari-hariku yang buruk menjadi indah. Bertahun-tahun kau mengubah dunia yang busuk ini menjadi nyaman, sehingga kegembiraanku tak pernah hilang. Hidup menjadi menyenangkan, semangatku untuk melawan nasib berkobar, sehingga usiaku panjang, jiwaku penuh dan kesehatanku tak pernah mundur. Untuk segala jasa-jasamu itu, hari ini kuberikan   kamu sebuah hadiah yang sangat istimewa namanya: kemerdekaan.” Juragan itu membuka pintu sangkar burung perkututnya, lalu menunjuk ke udara. “Lihatlah langit biru. Ke sanalah matamu harus memandang. Itulah kemerdekaan yang dicita-citakan oleh setiap orang. Itulah yang sudah din...